Rabu, 10 Juni 2015

SIKAP (ATTITUDE) MATA KULIAH PSIKOLOGI

BAB I

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Sikap atau attitude sudah sejak lama menjadi salah satu konsep yang dianggap penting dalam Psikologi Sosial. Sikap merupakan suatu perbuatan atau tingkah laku sebagai reaksi atau respons terhadap suatu rangsangan yang disertai dengan pendirian dan perasaan seseorang. Dalam hal ini, sikap dan perilaku merupakan salah satu unsur yang terdapat pada manusia. Keberadaannya kadang terlihat seiring dengan perilaku kesehariannya, namun terkadang sulit juga ditebak. Dua hal ini merupakan masalah psikologi yang kompleks.
Ketika para psikolog sosial berbicara tentang sikap seseorang, mereka merujuk pada kepercayaan dan perasaan yang terkait dengan seseorang atau suatu kejadian dan merujuk pada suatu tendensi perilaku sebagai hasilnya. Melalui sikap, maka seseorang dapat memberikan suatu cara yang efisien untuk menyesuaikan dunia. Oleh karena itu, pemakalah akan sedikit menguraikan pembahasan mengenai sikap, baik struktur, ciri-ciri maupun proses pembentukan dan pengubahan sikap.    
B.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian sikap dan struktur sikap?.
2.        Apa ciri-ciri dari sikap?.
3.        Bagaimana proses pembentukan dan pengubahan sikap?.
C.       Tujuan Penelitian
1.        Untuk mengetahui pengertian sikap dan struktur sikap.
2.        Untuk mengetahui cirri-ciri sikap.
3.        Untuk mengetahui proses pembentukan dan pengubahan sikap.


BAB II

PEMBAHASAN
1.      Pengertian Sikap
Secara historis, istilah sikap (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert Specer ditahun 1862 yang pada saat itu diartikan olehnya sebagai status mental seseorang (Allen, Guy, Edgley, 1980).[1] pada tahun 1888 Large menggunakan istilah sikap dalam bidang eksperimen mengenai respon untuk menggambarkan kesiapan subyek dalam menghadapi stimulus yang datang tiba-tiba. Oleh Large, kesiapan (set) yang terdapat dalam diri individu untuk memberikan respon itu disebut aufage atau task attitude. Jadi menurut istilah Large, sikap tidak hanya merupakan aspek mental semata melainkan mencakup pula aspek repons fisik. Dan ketika Thomas dan Znaniecki di tahun 1918 (Allen, Guy, dan Edgley, 1980) mengatakan bahwa psikologi sosial adalah studi ilmiah mengenai sikap, maka konsepsi sikap pun telah diterima secara formal dalam dunia pengetahuan.
Puluhan definisi dan pengertian pada umumnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu diantara tiga kerangka pemikiran. Pertama, adalah kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), dan Charles Osgood. Menurut mereka, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang teradap suatu obyek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut (Berkowitz, 1972). Kedua, kelompok ini yang diwakili oleh para ahli seperti Chave (1928), Bogardus (1931), La Pierre (1934). Menurut kelompok pemikiran ini, sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan potensial untukbereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.ketiga, menurut mereka konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu obyek.
Manusia dapat mempunyai attitude terhadap bermacam-macam hal. Misalnya bagi kaum Muslimin, daging babi adalah haram, tidak disukai, dan dianggap kotor. Mungkin sekali seseorang yang betul-betul besikap demikian apabila dikatakan bahwa ia sedang makan babi, ia akan memuntahkannya. Ini adalah contoh mengenai sebuah  sikap (attitude) terhadap makanan. Attitude mungkin terarah pada benda-benda, orang-orang tetapi juga peristiwa-peristiwa, pemandangan-pemandangan, lembaga-lembaga, norma-norma, nilai-nilai dan lainnya.
A.    Sikap Sosial dan Sikap Individu
Manusia itu dilahirkan dengan sikap pandangan ataupun sikap perasaan tertentu, tetapi sikap-sipat tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Attitude dapat dibedakan kedalam attitude sosial dan attitude individual.[2] Attitude sosial pernah dirumuskan sebagai berikut: Suatu attitude sosial yang dinyatakan dengan cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial. Attitude sosial menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah laku yang dinyatakan berulang0-ulang terhadap suatu obyek sosial, dan biasanya attitude sosial dinyatakan tidak hanya oleh seseorang, tetapi juga oleh orang lain yang sekelompok atau semasyarakat. Misalnya, penghormatan yang berkali-kali dinyatakan dengan cara khidmat oleh sekelompok orang terhadap bendera, menunjukkan adanya attitude kelompok tersebut terhadap benderanya..
Attitude individual berbeda dengan attitude sosial, yaitu:
1.        Attitude individual dimiliki oleh seorang demi seorang saja, misalnya kesukaan terhadap binatang-binatang tertentu.
2.        Attitude individual berkenaan dengan obyek-obyek yang bukan merupakan perhatian sosial.
Attitude individual terdiri atas kesukaan dan ketidaksukaan pribadi atas obyek, orang, binatang, dan hal-hal tertentu. Kita lambat-laun mungkin memperoleh sikap suka atau tidak suka kepada seorang kawan atau seorang pesaing, dan terdapat peristiwa-peristiwa penting kehidupan kita. Dan disinilah attitude individual turut membentuk sifat pada pribadi diri kita pribadi.
2.      Ciri-Ciri Sikap
a.         Sikap tidak dibawa orang sejak ia dilahirkan, tetapi dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakan dengan sifat motif-motif biogenesis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat dan lain-lain penggerak kegiatan manusia yang menjadi pembawaan baginya, dan yang terdapat padanya sejak dilahirkan.
b.        Sifat dapat berubah-ubah, karena itu sikap dapat dipelajari orang atau sebaliknya. Sikap dapat dipelajari sehingga sikap dapat berubah pada seseorang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah berubahnya sikap pada orang itu.
c.         Sikap tidak akan berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung relasi tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain, sikap terbentuk, dipelajari, atau berubah senantiasa berkaitan dengan suatu obyek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
d.        Obyek sikap dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi, sikap dapat berkaitan dengan dengan satu obyek saja, tetapi juga berkaitan dengan sederat obyek yang serupa.
e.         Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedakan sikap dari kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.[3]
Sikap mempunyai segi motivasi, berarti segi dinamis menuju ke suatu tujuan, berusaha mencapai suatu tujuan. Sikap dpat merupakan suatu pengetahuan, tetapi pengetahuan yang disertai kesediaan dan kecenderungan bertindak sesuai dengan pengetahuan itu.
Dalam hal ini, sikap juga berbeda dari tingkah laku. Tingkah laku itu hanya merupakan kelangsungan tingkah laku yang otomatis lberlangsung dengan sendirinya dan yang bermaksud untuk melancarkan atau mempermudah hidup saja. Contoh : kebiasaan ber-saikerei (menghormati) setiap hari Senin ke arah kediaman kaisar Jepang pada zaman pendudukan Jepang itu belum berarti bahwa orang-orang yang melakukanna mempnyai sikap tertentu terhadap Kaisar Jepang tersebut.
3.      Struktur Sikap
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu komponen kognitif (cognitive), komponen afektif (affective), dan komponen konatif (conative). Berikut penjelasannya:
a.         Komponen Kognitif (kepercayaan)
Komponen kognitif berisi kepercayaan seserang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Untuk memperjelas, penulis mencontohkan isu mengenai lokalisasi pelacur sebagai suatu obyek sikap. Dalam hal ini, komponen kognitif sikap terhadap lokalisasi pelacur adalah apa saja yang dipercayai seseorang yang mengenai lokalisasi tersebut. Seringkali dalam isu yang seperti ini, apa yang dipercaya seseorang itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam fikirannya. Apabila telah terpolakan dalam fikiran bahwa pelacuran merupakan sesuatu yang negati ata tidak baik, lepas daripada maksud dan tujuan diadakannya lokalisasi. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat. Kadang-kadang kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.
b.        Komponen Afektif (emosional)
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum, kompnen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun, pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
Sebagi contoh, dua orang yang mempunyai sikap negatif terhadap pelacur misalnya, yang seorang tidak menyukai pelacur dan ketidaksukaannya ini berkaitan dengan ketakutan akan akibat perbuatan pelacuran, sedangkan orang lain mewujudkan ketidaksukaanya dalam bentuk rasa benci aatu jijik terhadap segala sesuatu yang menyangkut pelacur.
Reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi obyek tersebut. Bila kita percaya bahwa pelacuran akan membawa kekotoran dan ancaman terhadap kesehatan, maka akan terbentuk perasaan tidak suka atau afeksi yang ter-fevorabel terhadap pelacur.
c.         Komponen Konatif (perilaku)
Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Maksudnya, bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap nstimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek. Contohnya, apabila orang percaya bahwa daging kuda tidak enak rasanya, dan ia merasa tidak suka pada daging kuda, maka wajarlah apabila ia tak mau makan daging kuda.
4.      Pembentukan Sikap dan Pengubahan Sikap
Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu yang akan dijelaskan berikut ini:
a.         Pengalaman Pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.

Secara umum, pembentukan dan pengubahan sikap dapat terjadi melalui empat cara, antara lain:
1.      Adaptasi
2.      Diferensiasi
3.      Integrasi
4.      Trauma
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap, antara lain:
1.      Faktor Intern, yaitu faktor yang terdapat pada diri orang yang bersangkutan. Kita tidak dapat menangkap seluruh perangsang dari luar melalui persepsi kita. Oleh karena itu, kita cenderung melakukan seleksi atas rangsangan-rangsangan yang ada.
2.      Faktor Ekstern, yaitu berasal dari luar diri orang yang bersangkutan. Faktor ini, antara lain menyangkut:
a.        Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap
b.      Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap
c.        Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap
d.      Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap
e.        Situasi pada saat sikap itu dibentuk 


b.        Pembentukan dan Perubahan Sikap
Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi pembentukannya senantiasa berlangsung dalam interaksi manusia dan berkenaan dengan objek tertentu. Interaksi sosial di dalam kelompok maupun di luar kelompok dapat mengubah sikap atau membentuk sikap yang baru. Yang dimaksudkan interaksi di luar kelompok ialah interaksi dengan hasil kebudayaan manusia yang sampai kepadanya melalui alat-alat komunikasi  seperti surat kabar, radio, televisi, buku, risalah, dan lain-lainnya. Tetapi pengaruh dari luar diri manusia karena interaksi di luar kelompoknya itu sendiri belum cukup  untuk menyebabkan berubahnya sikap atau terbentuknya sikap baru. Faktor-faktor lain yang turut memegang peranannya ialah faktor-faktor intern di dalam diri manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat-perhatiannya untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya itu. Dan faktor-faktor intern itu turut ditentukan pula oleh motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam diri pribadi orang itu. Jadi dalam pembentukan dan perubahan sikap itu terdapat faktor-faktor intern dan faktor-faktor ekstern pribadi individu yang memegang peranannya. 








[1] Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,1995) Hlm. 3.
[2] W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung : PT Refika Aditama, 2004) Hlm.162.
[3] W.A. Gerungan Psikologi Sosial, (Bandung : PT Refika Aditama, 2004) Hlm. 163-164.

Minggu, 07 Juni 2015

INTERNET DAN INTRANET

I.                   PENDAHULUAN
Pada mulanya, internet sempat diperkirakan akan mengalami kehancuran oleh beberapa pengamat komputer di era 1980-an karena kemampuannya yang pada saat itu hanya bertukar informasi satu arah saja. Namun semakin ke depan, ternyata perkiraan tersebut meleset, dan bahkan sekarang menjadi suatu kebutuhan akan informasi yang tiada henti-hentinya dipergunakan.
Namun keindahan internet tidak seindah namanya yang dijanjikan dapat memberikan berbagai informasi yang ada di belahan dunia manapun, karena berbagai kejahatan yang ada di kehidupan nyata ternyata lebih banyak ditemukan didunia internet. Kejahatan di internet ini populer dengan nama cyber crime.
Adanya cyber crime akan menjadi dampak buruk bagi kemajuan dan perkembangan negara kita serta di dunia pada umumumnya. Saat ini, internet telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari sebagai salah satu wahana komunikasi dalam bisnis maupun untuk privat. Tetapi di balik itu masih banyak lubang kelemahan sistem di internet yang bisa dimanfaatkan oleh para cracker untuk tujuan tidak baik, seperti bom mail, pengacak-acakan home page, pencurian data, pasword ataupun nomor kartu kredit, dll.
II.                RUMUSAN MASALAH
a.       Apa Yang Dimaksud dengan Internet dan Intranet?
b.      Bagaimana Sejarah Internet?
c.       Apa Keuntungan dan Kerugian Internet?
d.      Bagaimana Kaitanya Internet Dengan Dakwah?
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Internet dan Intranet
Internet merupakan singkatan dari interconnected networking yang berarti jaringan komputer yang saling terhubung antara satu komputer dengan komputer yang lain yang membentuk sebuah jaringan komputer di seluruh dunia, sehingga dapat saling berinteraksi, berkomunikasi, saling bertukar informasi atau tukar menukar data.
Internet adalah jaringan computer terbesar yang menghubungkan berbagai jaringan computer dan jutaan komputer yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Sebuah kenyataan yang menarik, internet menghubungkan jaringan-jaringan computer di bumi dan melibatkan organisasi bisnis maupun nirlaba, pendidikan, dan militer. Siapapun dapat berhubungan dengan jaringan ini dan dapat memanfaaatkan layanan yang tersedia.
Selain itu, perbedaan jenis computer dan system operasi tidak menjadi prasyarat dalam berhubungan dengan jaringan ini. Apapun computer yang digunakan, baik berupa PC ataupun minicomputer, baik menggunakan system operasi berbasis Linux, Windows, ataupun yang lain, bisa mengakses internet. Bahkan , PDA ataupun telepon seluler pun dapat digunakan untuk melakukan koneksi ke internet.[1]
Intranet adalah jaringan komputer dalam sebuah perusahaan yang menggunakan teknologi internet. Pada dasarnya lingkungan intranet sama seperti internet, tetapi lebih bersifat privat bagi perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ini, pengaksesan informasi yang berkaitan dengan system basis data juga dilakukan melalui browser, seperti Internet Explorer dan Mozila Firefox.

B.     Sejarah Internet
Ide penciptaan internet pertama kali dikemukakan oleh J.C.R Licklider dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) pada Agustus 1962. Konsepnya disebut’’Galactic Network’’. Ia mengemukakan tentang jaringan global yang memungkinkan orang dapat mengakses data dan progam dari mana saja. Oktober 1962 beliau mengepalai progam penelitian computer ARPA (Advanced Reseaech Project Agency) yang merupakan bagian dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Pada tahun 1965 peneliti dari MIT bernama Lawrence G. Roberts (sering juga disebut Larry Roberts) dan Thomas Meril melakukan koneksi computer TX-2 di MIT dengan computer Q-32 di California menggunakan jalur telepon berkecepatan rendah untuk menciptakan jaringan berskala luas (WAN) untuk pertama kali.
Pada tahun 1966 Larry Roberts mengembangkan konsep jaringan computer. Kemudian, beliau merencanakan jaringan yang disebut “ARPANET”,yang dipublikasikan pada tahun 1967. Pada tahun 1969 ARPANET telah melibatkan empat buah computer yang terkoneksi. Komputer   pertama berada di University of California Los Angelos (UCLA), komputer kedua berada di Stanford Research Institute (SRI), komputer ketiga berada di University of Santa Barbara (UCSB), dan komputer keempat berada di Universitas Utah.
Pada tahun 1971 jumlah komputer yang terhubung ke ARPANET mencapai 14 buah. Pada tahun ini pulalah protocol Telnet dan FTP berhasil dibangun. Pada tahun 1972 Larry Robert dan Bob Khan mengenalkan ARPANET pada konferensi ICCC (International Conference on Computer Communication) yang diselenggarakan di Washington.[2]
C.    Keuntungan dan Kerugian Internet
 Keuntungan internet antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Adanya standar dalam menyajikan informasi karena semua informasi diaksese melalui browser. Pemakai informasi tidak perlu menginstal progam untuk mengakses informasi.
b.      Memudahkan siapa saja menyajikan informasi.
c.       Memudahkan untuk melakukan koneksi ke internet.
Kadang kala intranet juga dihubungkan ke jaringan internet dengan dilengkapi firewall. Firewall adalah progam yang dijalankan pada computer yang berkedudukan sebagai server dengan tujuan untuk mencegah akses intranet dari internet, tetapi memungkinkan pemakai di dalam intranet mengakses internet.
             Kerugian Internet :
1.      Cybercrime adalah kejahatan yang dilakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat melintasi batas Negara, Perbuatan dilakukan secara illegal, Kerugian sangat besar, sulit pembuktian secara hukum.
  Bentuk-bentuk cybercrime sebagai berikut :
a.      Hacking – Usaha memasuki sebuah jaringan dengan maksud mengeksplorasi atupun mencari kelemahan system jaringan.
b.      Cracking  –  Usaha memasuki secara illegal sebuah jaringan dengan maksud mencuri, mengubah atau menghancurkan file yang di simpan pada jaringan tersebut.
2.      Pornografi
        Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat diakses. Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
3.      Violence and Gore
        Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan, karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjual situs mereka. Salah satunya dengan menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
4.      Penipuan
             Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau tersebut.
5.      Carding
             Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah cara yang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
6.      Perjudian
Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
7.      Mengurangi sifat sosial manusia
Manusia cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face). Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang). Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut parnografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.[3]

D.    Hubungan/kaitanya Internet  Dengan Dakwah.
Internet telah memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan manusia pada era globalisasi ini. Begitupun dalam dunia dakwah islam yang dituntut untuk bisa mengimbangi atau  mengikuti perkembangan teknologi dalam dunia yang hina ini. Dengan begitu adanya internet dapat dijadikan sebagai media atau sarana dakwah islam di dunia ini.
Internet dapat menjadi fasilitas bagi da’i untuk menyebarluaskan dakwahnya, seorang da’i dapat menggunakan fasilitas internet misalnya :
a.       Blog
Blog adalah kependekan dari Weblog. Seringkali blog digunakan untuk menyebut website pribadi yang selalu diupdate (diperbaharui) secara terus-menerus dan berisi link-link ke website lain yang dianggap menarik, dan disertai komentar-komentar pemilik blog dan pengunjungnya.
Adapun beberapa keuntungan kita memiliki berdakwah lewat blog adalah :
a.       Memperluas dakwah
b.      Tempat Apresiasi Hasil Tulisan
c.       Tempat Publikasi Kajian
d.      Memperluas Hubungan baik sesama dai maupun dengan mad’u
b.      Milis
Mailing list atau lebih dikenal dengan milis merupakan kelompok diskusi di mana setiap orang berbincang tentang topik yang mereka inginkan. Mereka pun dapat berlangganan dan berpartisipasi di dalamnya. Untuk menjadi member (anggota) milis hanya disyaratkan mengirim email ke ke salah satu alamat milis.
Tidak cukup sekedar menjadi anggota, bahkan kita dapat membuat milis sesuai dengan kebutuhan. Tentunya sebagai dai yang ingin menyebarkan dakwahnya dapat membuat milis yang berkaitan dengan dakwah yang ditekuni sekaligus menjadi moderatornya. Dari milis inilah kita dapat menyampaikan pemikiran kita kepada para anggota milis.
c.       Forum Diskusi
Bila digambarkan forum diskusi adalah layaknya suatu tempat di mana terdapat ruangan-ruangan diskusi yang terpisah. Dan tiap-tiap ruangan mempunyai topik diskusi yang berbeda-beda. Di setiap ruangan itu bisa terdapat lebih dari satu orang yang saling bertukar pendapat atau pikiran. Jadi kita bisa memberikan pendapat kita ke semua orang yang ada di ruangan tersebut.[4]
Di internet terdapat ribuan forum dakwah. Pencarian dengan mengkhususkan halaman yang memiliki judul “forum dakwah” menghasilkan 7080 hasil pencarian. Ini merupakan pencarian di halaman berbahasa Indonesia dan belum menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan yang lainnya. Padahal tidak sedikit forum-forum semisal yang tersebar di internet dari berbagai negara. Para mujahidin pun mulai menggunakan media dakwah ini dalam menyebarkan fikroh jihadinya. Tak mau kalah para penyebar kebathilan pun turut menggunakannya dalam menyebarkan kesesatan.


E.     KESIMPULAN
Pengertian internet adalah jaringan computer terbesar yang menghubungkan berbagai jaringan computer dan jutaan komputer yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Sedangkan intranet merupakan jaringan komputer dalam sebuah perusahaan yang menggunakan teknologi internet. Pada dasarnya lingkungan intranet sama seperti internet, tetapi lebih bersifat privat bagi perusahaan yang bersangkutan.
Banyak keuntungan jika kita menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah memudahkan kita dalam segala hal, misalkan komunikasi, informasi, sosialisasi, dll. Meskipun internet bermanfaat bagi kita, tentu internet juga mempunyai kerugian yaitu cybercrime, pornografi, violence and gore, penipuan, carding, perjudian dll.

F.     PENUTUP
Demikian makalah yang bisa kami sampaikan, sekiranya isi dalam makalah ini dapat memberikan pemahaman dalam khazanah intelektual kita. Mohon maaf apabila ada kesalahan penyampaian dalam makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
















DAFTAR PUSTAKA
Jogiyanto, system teknologi informasi, Yogyakarta: Andi Offset, 2003.
Kadir. Abdul, Having Fun With Computer!, Yogyakarta: Andi Offset, 2011.
http://sugiyanto.blogspot.com/2014/04/kerugian-penggunaan-internet-dalam.html. (diakses pada tanggal 14-03-2015 pukul 10.40 WIB).












[1] Abdul Kadir, Having Fun With Computer!, Yogyakarta: Andi Offset, 2011,hal 198-208.
[2] Abdul Kadir, Having Fun With Computer!, Yogyakarta: Andi Offset, 2011,hal 198-208.


[4] Jogiyanto, system teknologi informasi, Yogyakarta: Andi Offset, 2003,hal.157-158